Tekab 308 Satreskrim Polres Lampung Utara Berhasil Meringkus Oknum Wartawan Memeras Pedagang

Lampung Utara – Siang itu, pasar tradisional di Desa Negara Ratu, Sungkai Selatan seperti biasa, ramai.

Namun bagi Sofiyah (42), pedagang sembako di Pasar Senen, hari itu menjadi mimpi buruk yang tidak pernah ia duga akan datang.

Rasa takut dan tekanan psikologis dialaminya dari empat orang tak dikenal yang datang mengaku wartawan.

Saat dirinya sendirian waktu itu di Januari 2025. Tiba-tiba mereka datang dan langsung menanyakan soal rokok ilegal.

Para pelaku mengancam akan membawanya ke polisi jika tidak menuruti yang mereka inginkan.

Empat orang pria itu tidak hanya mengancam, tapi juga menuntut uang,Jumlahnya pun tidak main-main: Rp 40 juta.

Uang yang tidak dimiliki Sofiyah dalam satu waktu, apalagi dari hasil berdagang kebutuhan pokok.”Saya cuma punya Rp 15 juta, karena takut saya kasih,” ujarnya.

Tak ingin jadi korban lebih lanjut, Sofiyah akhirnya melaporkan kejadian tersebut ke Polres Lampung Utara.

Proses hukum pun dimulai, meskipun sempat terkendala karena para pelaku tidak kooperatif saat dipanggil penyidik.

Namun berkat ketegasan Tekab 308 Presisi Satreskrim, tiga dari empat pelaku akhirnya ditetapkan sebagai tersangka.

Para pelaku diketahui merupakan oknum yang mengaku sebagai wartawan media online, namun setelah ditelusuri, media tersebut tidak terdaftar resmi di Dewan Pers.

Kasus ini membuka mata banyak pihak tentang penyalahgunaan identitas profesi wartawan untuk kepentingan pribadi.

Dalam kasus ini, bukan hanya reputasi media yang tercoreng, tapi juga rasa aman pedagang kecil seperti Sofiyah yang bekerja keras mencari nafkah halal.

Pemerintah Provinsi Lampung Dorong Pembangunan Sektor Pariwisata Sebagai Fondasi Ekonomi Daerah

Bandar Lampung — Pemerintah Provinsi Lampung terus berupaya memfokuskan pengembangan sektor pariwisata sebagai salah satu pilar utama pembangunan daerah.

Hal tersebut diungkapkan oleh Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat meresmikan Azana Boutique Hotel Bandar Lampung yang berlokasi di Jl Jenderal Sudirman No.67 Rawa Laut, Enggal, Kota Bandar Lampung, Minggu (27/07/2025).

“Insya Allah dalam tahun-tahun ke depan, Pemerintah Provinsi Lampung akan mulai memfokuskan sektor pariwisata dalam mengembangkan Provinsi Lampung. Kami sangat paham sekali pariwisata adalah salah satu instrumen bagi bagaimana Lampung ini bisa tumbuh, kita bisa tumbuh kembangkan kami akan dorong,” tegasnya.

Gubernur Mirza mengatakan bahwa saat ini wisatawan yang berkunjung ke Lampung, tingkat lama tinggal (length of stay) dan jumlah pengeluaran (spending) mereka masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan masih kurangnya fasilitas penunjang seperti hotel dan restoran. Oleh karena itu, pembangunan fasilitas seperti Azana Boutique Hotel menjadi sangat penting.

Pemerintah Provinsi Lampung terus berupaya untuk lebih mengorganisir pengembangan pariwisata yang selama ini tumbuh secara organik.

“Lampung tumbuh, pariwisatanya sangat luar biasa secara organik. Banyak kuliner, banyak wisata laut dan lain-lain, ini semua organik. Kami sedang berusaha mengorganisir ini supaya terorganisir dengan baik,” tambahnya.

Sebagai bentuk komitmen, Gubernur Mirza menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi akan berkolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota dalam mempermudah perizinan dan memberikan berbagai insentif bagi pelaku usaha pariwisata. Semua ini merupakan bagian dari visi besar Lampung Maju Menuju Indonesia Emas 2045.

“Saya akan berkolaborasi dengan Bupati, Walikota bagaimana semua pengusaha-pengusaha pariwisata itu akan segera kita berikan kemudahan-kemudahan, baik itu pajak, retribusi dan lain-lain, ini adalah salah satu komitmen kami dalam mendukung pengusaha-pengusaha lampung untuk berinvestasi di bidang pariwisata,” tegasnya.

Gubernur menyatakan bahwa sektor pariwisata dan ekonomi kreatif merupakan kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, serta memperkenalkan potensi lokal ke dunia internasional.

“Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi kunci untuk meningkatkan perekonomian, membuka peluang kerja, dan memperkenalkan potensi lokal kita ke dunia internasional. Pariwisata adalah salah satu alat kami dalam memperkenalkan Provinsi Lampung, seluruh dunia tahu Lampung dari pariwisatanya, itu yang salah satu kita dorong bagaimana dunia pariwisata ikut memperkenalkan budaya Lampung. Nilai kami akan menjadi besar ketika budaya kita dikenal,” tegasnya.

Gubernur berharap Azana Hotel sebagai bagian dari ekosistem industri pariwisata dan hospitality di Provinsi Lampung dapat menjadi duta keramahan dan kekayaan budaya Lampung.

“Kehadiran Hotel Azana Boutique di Bumi Ruwa Jurai adalah langkah besar. Saya berharap kehadirannya mampu memperkaya ekosistem pariwisata kita yang inklusif, berkelanjutan, dan tentunya mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional,” tegasnya.

Diakhir Gubernur mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama berkontribusi dalam membangun Provinsi Lampung.

“Mari kita semua bersinergi, pelaku usaha, investor, serta masyarakat, untuk terus berkolaborasi dan berinovasi. Kita semua harus satu tujuan, kita dorong semua pariwisata provinsi lampung dan ini adalah bagian dari perjalanan besar provinsi lampung untuk menjadi fondasi menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.

Sementara itu, CEO dari Azana Hotels & Resorts Dicky Sumarsono juga menjelaskan bahwa pembangunan Azana Boutique Hotel di Lampung ini dinilai sangat strategis, karena Provinsi Lampung mempunyai daya tarik yang luar biasa.

“Kami berdiskusi sangat panjang dengan owner, Lampung ini dipilih karena punya daya tarik yang luar biasa bapak Gubernur jadi selain sebagai kota perdagangan juga kota wisata yang punya wisata alam sangat menarik wisata budayanya juga wisata kuliner,” jelasnya.

Dicky juga menilai bahwa berdasarkan data, potensi wisatawan yang datang ke provinsi Lampung juga sangat luar biasa, sehingga Azana Boutique Hotel hadir di Lampung sebagai bagian dari ekosistem industri pariwisata dan hospitality di Provinsi Lampung

“Dari data yang ada di online travel agent aja itu ada sekitar 200.000 kamar yang terjual di tahun 2024 hanya dari online travel agent, belum dari yang lainnya. Lampung memang punya potensi yang luar biasa. Jadi Azanna hadir di sini juga untuk melengkapi bisnis hospitality yang ada di Lampung karena kita punya semua fasilitas,” jelasnya. (Dinas Kominfotik Provinsi Lampung).

Cegah Karhutla Sejak Dini, Polres Lampung Selatan Gandeng Lintas Instansi Gelar Rapat Koordinasi Antisipasi Bencana

Lampung Selatan, – Polres Lampung Selatan menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) lintas sektor dalam rangka antisipasi bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), bertempat di Aula Gedung Wicaksana Laghawa (GWL), Rabu, 23 Juli 2025 pagi. Kegiatan dihadiri oleh unsur Forkopimda, TNI, BPBD, Damkar, Dinas Lingkungan Hidup, ASDP, hingga perwakilan perusahaan dan stakeholder terkait.

 

Kapolres Lampung Selatan, AKBP Toni Kasmiri, dalam arahannya menegaskan pentingnya sinergitas lintas instansi dalam menanggulangi Karhutla yang kerap terjadi, terutama di wilayah rawan seperti sepanjang jalur tol dan kawasan hutan produksi.

“Kami hanya memiliki satu unit water cannon. Artinya, kami butuh dukungan penuh dari Damkar dan instansi lain untuk penanganan Karhutla secara maksimal. Untuk itu, saya instruksikan kepada para Kapolsek agar segera membentuk relawan tanggap Karhutla di tiap desa,” tegas Kapolres.

Ia juga meminta keterlibatan aktif dari BMKG untuk terus memperbarui informasi cuaca dan potensi hotspot, serta kepada pengelola tol untuk segera melaporkan jika ditemukan titik api.

 

Dalam paparannya, Kompol Dafrison selaku Kabag Ops mengungkap bahwa terdapat lebih dari 10 kawasan hutan lindung dan produksi di Lampung Selatan yang sangat rentan terbakar. Tercatat, pada tahun 2023 terjadi 71 kasus Karhutla, tahun 2024 menurun menjadi 25 kasus, dan pada tahun 2025 hingga Juli ini tercatat 2 kasus.

 

Sementara itu, Sekretaris Damkar menyampaikan kesiapan 3 unit mobil damkar kapasitas 4.500 liter dan 1 kendaraan suplay yang disiagakan di titik-titik strategis. Namun ia mengakui keterbatasan alat dan kebutuhan SDM yang harus terus dimaksimalkan.

“Tahun lalu, kebakaran paling banyak terjadi di sepanjang tol. Maka, wilayah tersebut harus menjadi prioritas patroli sore dan siaga tangki air,” ujar Hendri, Sekretaris Dinas Damkar.

 

Kasdim 0421/LS Mayor Inf Adi Hartono turut mendukung langkah pencegahan dengan menekankan patroli aktif di sepanjang tol dan wilayah hutan yang rawan terbakar. Pihak BPBD juga menyatakan siap siaga dengan mobil tangki dan 5 personel standby setiap hari. Dari pihak ASDP, disampaikan bahwa telah disiapkan dua unit mobil pemadam dengan kapasitas 3 ton air per unit.

 

Beberapa langkah konkret yang akan segera dilakukan antara lain: Pembentukan Satgas Karhutla tingkat kabupaten, Pembentukan Posko Karhutla dan rayonisasi penanganan, Patroli terpadu Babinsa–Bhabinkamtibmas–Masyarakat, Pemetaan pohon rawan tumbang di Jalinsum dan Penyuluhan kepada masyarakat untuk tidak membakar lahan dan sampah

Kapolres menekankan, “Kita tidak boleh menunggu Karhutla terjadi baru bertindak. Kita harus proaktif. Keselamatan warga Lampung Selatan adalah prioritas utama.”

Bhabinkamtibmas dan Babinsa diimbau terus mengedukasi masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan melaporkan sedini mungkin bila melihat titik api. Pemerintah desa juga diimbau menggerakkan ronda malam dan menjaga lingkungan sekitar.

“Mari kita jaga alam kita sebelum bencana menimpa kita. Sinergi dan gotong royong adalah kunci untuk Lampung Selatan yang aman dari Karhutla,” tutup Kapolres.

 

Rakor ini ditutup pukul 11.00 WIB dengan situasi aman dan kondusif, menjadi langkah nyata komitmen bersama seluruh pihak dalam mencegah dan menangani Karhutla secara terpadu di Kabupaten Lampung Selatan

Anggotanya Dilaporkan ke Propam Polda Lampung, Begini Penjelasan Kapolres Lampung Utara

 

Lampung Utara – Terkait adanya beberapa anggota Sat Reskrim Polres Lampung Utara dilaporkan ke Bidang Propam (Bid Propam) Polda Lampung. Laporan itu dibuat oleh Samsi Eka Putra Kuasa hukum dari ketiga tersangka dalam perkara pemerasan atau pengancaman.

 

Laporan tersebut ketidak proprofesionalan kinerja Sat Reskrim Polres Lampung Utara dalam menangani perkara tersebut dan adanya oknum anggota Polres Lampung Utara dan oknum anggota Polda Lampung diduga membekingi penjualan Rokok ilegal di Sungkai Utara.

 

Kapolres Lampung Utara AKBP Deddy Kurniawan menyampaikan, keempat personel Sat Reskrim Polres Lampung Utara yang dilaporan oleh kuasa hukum tersangka ke Polda agar menanyakan hal tersebut ke Polda Lampung.

 

“Laporannya kan ke Polda Lampung, silahkan tanyakan ke Polda sejauh mana prosesnya. Kita ini kan selaku terlapor, tanya ke Polda,” ujar Kapolres Jum’at (25/7/25).

 

Terkait dugaan tidak profesional, lanjut AKBP Deddy kembali, pihaknya sudah sesuai dengan prosedur saat menangani kasus yang menjerat ketiga oknum wartawan tersebut.

 

“Kalau kita melihatnya bahwa proses penyidikannya sudah berjalan sesuai aturan dan sudah sesuai prosedur, “ujarnya kembali.

 

Prihal adanya anggota yang menjadi beking penjualan rokok ilegal silahkan di buktikan kebenaran nya.

 

“Kalau terbukti benar kita akan proses,” tegasnya.

 

Soal laporan kuasa hukum para tersangka tersebut, Kapolres Lampung Utara AKBP Deddy mengatakan kembali bahwa pihaknya tidak masalah dengan adanya laporan tersebut.

 

” Adanya laporan tersebut tidak masalah juga dan itu hak para tersangka,” ujar AKBP Deddy.

 

Sementara itu Kasat Reskrim Polres Lampung Utara AKP Apfryyadi menambahkan, kami Satreskrim Lampung Utara juga pernah mengungkap terkait peredaran Rokok Ilegal di Wilayah Kecamatan Kotabumi Utara.

 

“Dari pengungkapan tersebut, kami amankan 25.800 Batang Rokok Ilegal berbagai merk, dan sudah kami limpahkan BB tersebut ke Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Bandar Lampung,” tuturnya.

 

Diberitakan sebelumnya, bahwa Sat Reskrim Polres Lampung Utara telah menetapkan ketiga oknum wartawan dari media online dalam kasus pemerasan atau pengancaman terhadap korban pedang kelontong yang berada di Kecamatan Sungkai Utara. (*)

Wamen PAN-RB Apresiasi Pelayanan Publik di Polresta Bandar Lampung, Beri Nilai 90

Lampung – Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Purwadi Arianto, melakukan peninjauan langsung ke sejumlah layanan publik di Mapolresta Bandar Lampung, Kamis (24/7/2025).

 

Dalam kunjungan tersebut, Purwadi Arianto yang juga merupakan mantan Kapolda Lampung tahun 2018, meninjau pelayanan pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) dan berbagai layanan administrasi lainnya.

 

Ia menegaskan pentingnya pelayanan publik yang berdampak nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

 

“Kedatangan saya ini memastikan bahwa pelayanan publik itu berdampak dan dirasakan masyarakat. Saya melihat komitmen dari pimpinan, SDM yang terlatih, data yang terintegrasi, serta kolaborasi antarbagian yang saling melengkapi sehingga kualitas pelayanannya dari waktu ke waktu akan lebih baik,” ujarnya.

 

Purwadi menekankan bahwa ekspektasi masyarakat terhadap pelayanan publik semakin tinggi, baik dari aparatur negara, pemerintah daerah, maupun kepolisian.

 

Menurutnya, masyarakat menginginkan pelayanan yang cepat, responsif, dan transparan, terutama dalam hal perizinan, pembuatan SIM, serta pengurusan SKCK.

 

“Sehingga tingkat kepercayaan masyarakat terhadap aparaturnya makin meningkat dari waktu ke waktu. Ini diperlukan untuk tata kelola yang semakin baik sehingga layanannya lebih mudah, cepat, nyaman, dan yang paling penting terbuka sehingga masyarakat puas,” lanjutnya.

 

Dalam penilaiannya, Purwadi Arianto mengaku puas dengan pelayanan publik di Polresta Bandar Lampung. Ia bahkan memberikan nilai 90 dari skala 100.

 

“Saya yakin masyarakat puas dengan pelayanan di sini. Tempatnya bersih, nyaman, dan semua komponen pelayanannya bekerja dengan baik,” pungkasnya. (*)

Why a Built-in Exchange, Hardware Wallet Support, and Clean Portfolio Matter More Than You Think

Whoa!

I opened a crypto wallet last week and felt something shift in my expectations. It was small, but noticeable: trades felt less like transactions and more like smart small decisions. At first I assumed the so-called built-in exchange would be clunky or expensive. Initially I thought a swap inside a wallet would be a gimmick, but then I watched the routing logic decide between liquidity pools and gas, and my skepticism softened into curiosity.

Here’s the thing.

People want control. They want clarity. They want to see their assets laid out so they can breathe. Seriously? Yep. My instinct said “keep it simple,” though actually, wait—let me rephrase that: keep it secure but not obtuse. On one hand a built-in exchange reduces friction by letting you swap without copying addresses into an external service; on the other hand you risk paying opaque fees if the wallet doesn’t show the routing steps. That tension is real.

Okay, so check this out—I’ve used wallets that promised ‘one-click swaps’ but then quietly routed trades through three hops and left me with a worse price. That bugs me. I’m biased toward transparency. If a wallet shows the exact path and estimates slip, I trust it more, even when the outcome is worse. Why? Because I can reason about it, feel the trade, make a call.

Hardware wallet support changes the game. Hmm… cold storage meets hot convenience. You get the best of both worlds when a desktop or mobile wallet integrates with a hardware device and still lets you preview swaps and sign transactions without exposing private keys. It sounds ideal in theory, and in practice it mostly is — though there are bumps. For example, sometimes the UX for signing on a hardware device is awkward and adds seconds that feel like an eternity when the market is moving. But you trade a little speed for a lot more safety, and most sane people do that trade quickly.

Hand holding a hardware wallet next to a laptop showing a crypto portfolio

A sensible setup: exchange + hardware + portfolio

I like wallets that treat a portfolio as a living thing, not just a ledger. The right app shows allocation, unrealized gains, and risk without being flashy or overwhelming. It also consolidates the scattered pieces of your holdings — chains, tokens, NFTs — into one coherent view so you can make informed moves. I found this approach intuitive when I first started consolidating accounts; somethin’ about seeing everything together calmed me down. And if you want a place to start, try this wallet called exodus because the design emphasises clarity while still supporting hands-on security workflows.

My first impression of Exodus (and yes that is just one example of many) was: clean, approachable, and no-nonsense. The team clearly values onboarding. New users get gentle nudges without being nagged, which matters. The app integrates swaps and shows a suggested route, though you still need to be mindful of hidden slippage settings and gas spikes. That’s why learning a few quick checks is useful.

Tip: always glance at the route and the slippage tolerance before confirming. If something looks odd, pause. Really pause. It’s easy to ignore in the heat of a pump or dump. On very fast-moving pairs, sometimes it is safer to move to a DEX directly from a hardware-connected interface, though that adds complexity. On balance, though, the convenience of an integrated swap beats the hassle for day-to-day rebalances for most users.

Portfolio features often get short shrift in reviews, yet they are the day-to-day reason I open my wallet. I want to know which chain is eating fees, which token is dominating my risk, and what trades would rebalance me toward a target allocation. A good wallet builds simple tooling for that: set target percentages, suggest small sells or buys, and let you execute them with minimal clicks. That kind of UX saves time and mental energy, which in my experience leads to better long-term decisions.

Here’s another real thing: notification fatigue. Too many alerts and you ignore them. Too few and you miss rebalances or security prompts. The sweet spot is subtle and personal. Exodus, for instance, tries to keep alerts contextual and not spammy, which I appreciated when I was juggling a few airdrops and had to decide whether to claim them or not. (oh, and by the way… claiming can introduce tax complexity.)

Security trade-offs are everywhere. A wallet can be user-friendly but sloppy with key management, or ironclad but maddeningly complex. My rule of thumb is this: prioritize wallets that let you pair external cold storage. If you can use a hardware wallet for signing while keeping a smooth UX for viewing and managing assets, that’s a winner. It reduces attack surface without making everything a chore.

Some features I look for when I evaluate a wallet:

– Clear estimation of transaction costs and routes.

– Hardware wallet compatibility across major devices.

– Portfolio analytics with actionable recommendations.

– Exportable transaction history for taxes and audits.

– Reasonable default privacy settings that don’t leak more than necessary.

But nothing is perfect. There are trade-offs between decentralization and convenience. Sometimes an integrated exchange will custody liquidity or rely on third-party aggregators. That introduces counterparty risk. On the other side, the DIY approach of using separate DEXs, bridges, and hardware devices is secure but often bewildering for newcomers. Initially I favored the do-it-yourself path, but as my holdings grew I appreciated products that reduced operational overhead while preserving sovereignty. It’s a personal journey; you’ll make different calls at different stages.

I mentioned fees earlier. Okay, be frank: they matter. They matter a lot if you trade frequently on small positions. If you’re only moving large chunks, then the UX and security will likely trump a fraction of a percent. But the small investor needs to be mindful. A good wallet surfaces fees transparently and lets you choose between speed and cost. If not, walk away. No, seriously—walk away or at least double-check the numbers.

Another nuance: cross-chain UX. Bridges are improving, but they still carry risks. I like wallets that clearly label when you’re bridging assets, show expected bridges’ counterparty, and provide a fallback if something hangs. The ecosystem is evolving fast, and wallets that bake in composability (while flagging risk) are the ones I use more often. That said, I’m not 100% sure any existing bridge is risk-free; caution is warranted.

One thing that bugs me is tutorial bloat. Tutorials that try to explain every possible edge case end up scaring users away. Conversely, hand-holding with no depth breeds overconfidence. A wallet that layers learning — quick tips first, deeper dives on demand — wins in my book. I’m also partial to human-centered microcopy that nudges users without sounding like a robot.

Lastly, some practical notes from my own messy experiments: I once tried rebalancing across four chains during a volatile evening. It was chaotic. Transactions timed out, approvals stacked up, and fees spiked. I lost patience and left a trade incomplete. That experience taught me to plan rebalances patiently, batch non-urgent moves, and always verify hardware approvals slowly enough to catch mistakes. Weirdly, stepping away for five minutes saved me from a bad decision.

Common questions

Do built-in exchanges save me money?

Sometimes. They save time and reduce friction, which has value. But they can also obscure routing fees. Check the route and the slippage screen. If the wallet shows transparency, you often get a fair price without extra steps.

Should I always use a hardware wallet?

If you hold meaningful sums, yes. A hardware wallet significantly reduces risk from malware and phishing. Pair it with a well-designed app for convenience. It’s not glamorous, but it’s effective.

How do I manage portfolio complexity across chains?

Use a wallet that aggregates balances and provides simple analytics, then prioritize actions that reduce operational overhead—like consolidating small dust into a single chain or using staking/LP dashboards cautiously. And keep an exportable history for taxes.

Polres Lampung Utara Gelar Tes Kesamaptaan Jasmani dan Ujian Beladiri Polri Berkala Semester ll Tahun 2025

 

Lampung Utara – Guna menjaga stamina personel Polres Lampung Utara ini mengikuti Tes Kesamaptaan Jasmani (Kesjas) dan Ujian Beladiri Polri Semester II Tahun 2025 secara berkala di Stadion Dukung Kotabumi, Kamis pagi (24/7/25).

 

Sebelum melaksanakan kesjas, seluruh personil terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan tensi untuk memastikan dapat atau tidaknya mengikuti kegiatan kesjas. Tes kesjas ini sendiri dikelompokkan menjadi empat golongan dan disesuaikan dengan golongan usia personil.

 

Kapolres Lampung Utara AKBP Deddy Kurniawan melalui Kasi Humas AKP Budiarto mengatakan, dalam pelaksanaan kesjas ini penilaian dibagi menjadi beberapa item seperti lari 12 menit, push up, sit up, pull up dan shuttle run.

 

“Kegiatan ini untuk mengevaluasi kemampuan fisik dan kesehatan anggota Polri khususnya personil Polres Lampung Utara,” katanya.

 

Selain itu, diharapkan dengan pelaksanaan tes kesjas ini dapat menjaga kebugaran jasmani sehingga tetap prima dan selalu siap melaksanakan tugas.

 

“Tes kesamaptaan Jasmani ini bertujuan sebagai Indikator keberhasilan dalam melaksanakan tugas Kepolisian yang didukung oleh daya tahan tubuh, kekuatan fisik dan kemampuan beladiri yang optimal,” ujarnya. (*)

Untuk mengantisipasi potensi bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sejak dini, Polres Lampung Selatan menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) lintas sektor di Aula Gedung Wicaksana Laghawa

Untuk mengantisipasi potensi bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sejak dini, Polres Lampung Selatan menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) lintas sektor di Aula Gedung Wicaksana Laghawa, Rabu (23/7/2025).

Rakor ini dihadiri unsur Forkopimda, TNI, BPBD, Damkar, Dinas Lingkungan Hidup, ASDP, serta perwakilan perusahaan dan stakeholder lainnya. Fokus utama pertemuan adalah memperkuat sinergi antarinstansi dan membentuk langkah konkret penanganan Karhutla, terutama di jalur tol dan kawasan hutan produksi yang rawan terbakar.

Kapolres Lampung Selatan, AKBP Toni Kasmiri, menegaskan pentingnya pencegahan aktif dan keterlibatan seluruh unsur, termasuk masyarakat.

“Kami hanya memiliki satu unit water cannon. Maka dukungan dari Damkar dan instansi lainnya sangat kami butuhkan. Para Kapolsek juga saya instruksikan untuk segera membentuk relawan tanggap Karhutla di tiap desa,” ujarnya

Kapolres juga meminta BMKG terus memperbarui data cuaca dan hotspot serta mendorong pengelola tol untuk melaporkan potensi titik api. Ia menekankan bahwa keselamatan warga harus menjadi prioritas dan penanggulangan Karhutla tidak boleh bersifat reaktif.

“Kita tidak boleh menunggu Karhutla terjadi baru bertindak. Edukasi kepada warga juga sangat penting, jangan membuka lahan dengan cara dibakar, jangan buang puntung rokok sembarangan,” tegasnya.

Bhabinkamtibmas dan Babinsa juga diminta aktif menyosialisasikan pencegahan Karhutla, sementara pemerintah desa diimbau untuk mengaktifkan ronda malam dan menjaga lingkungan secara kolektif.

“Mari kita jaga alam kita sebelum bencana menimpa. Sinergi dan gotong royong adalah kunci menjaga Lampung Selatan tetap aman dari Karhutla,” tutup AKBP Toni.

Sempat Buron, Pelaku Spesialis Curat Ranmor Berhasil Diringkus Tekab 308 Presisi Polres Lampung Utara

 

Lampung Utara – Setelah hampir satu bulan buron, seorang pria berinisial RP (28), sebagai pelaku utama pencurian mobil pick up, di Jalan Bumi Tinggi dusun VI, RT 001, RW 001 Desa Talang Bojong Kecamatan Kotabumi, Lampung utara, akhirnya berhasil diringkus Polisi.

 

Ia ditangkap aparat Kepolisian di wilayah Kelurahan Kotabumi Udik, Kecamatan Kotabumi, minggu tanggal 20 juli 2025, dalam operasi Tim Tekab 308 Presisi Polres Lampung Utara.

 

Menurut Kasat Reskrim AKP Apfryyadi Pratama menjelaskan saat gelar Konfrensi Pers, terungkapnya kasus tersebut berawal saat para pelaku menggasak mobil pick up merk daihatsu tahun 2013 warna hitam no pol BE 9787 CK pada Senin 23 juni 2025 dini hari.

 

Pria yang diketahui tidak memiliki pekerjaan tetap ini terpaksa dilumpuhkan setelah melakukan perlawanan dengan menggunakan pisau Garpu saat akan ditangkap.

 

“Saat akan ditangkap, pelaku ini melakukan perlawanan terhadap petugas, dengan menggunakan pisau Garpu, sehingga petugas mengambil tindakan tegas dan terukur, yang dalam hal ini adalah melumpuhkan pelaku.l,” ujar AKP Apfryyadi. Senin (21/7).

 

Lanjut Kasat, kami sudah mengendus keberadaan pelaku sejak beberapa hari terakhir. Penangkapan ini adalah bagian pengembangan penangkapan dua pelaku lainnya di jalan dekat jembatan ayun Desa Cempaka Kecamatan Sungkai Jaya pada 26 juni 2025.

 

Berdasarkan pengakuan RP kepada penyidik, mobil pick up curian dijual dengan harga Rp 9 juta. Dari hasil penjualan itu, ia mengaku menerima bagian Rp 3 juta, sementara sisanya dibagikan kepada du rekannya yang telah di tangkap terlebih dahulu.

 

“Peran RP mulai dari merusak kunci mobil dengan menggunakan kunci T, melarikan mobil, menjual mobil hasil kejahatan hingga ikut menikmati uang hasil menjual mobil,” ungkap AKP Apfryyadi

 

Menurut Kasat Reskrim atas dugaan keterlibatannya, RP dijerat dengan Pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan, yang ancaman hukumannya mencapai tujuh tahun penjara.

 

“Pasal yang dikenakan, Pasal 363 KUHP dengan ancaman hukumannya 7 tahun penjara” kata AKP Apfryyadi.

 

Bersama tersangka Polisi mengamankan seperangkat kunci T lengkap, satu bilah pisau garpu dan (satu) unit mobil pick up merk daihatsu tahun 2013 warna hitam no.pol. BE 9787 CK nomor Rangka mhkp3ba1jdk053619 nomor Mesin ma95802 berikut dengan STNK dan BPKB nya.

Mentari pagi baru saja menampakkan wajahnya ketika Aula Sudirman TK Islam Terpadu (IT) Al Mumtaza di Kecamatan Kalianda dipenuhi riuh tawa dan sorak sorai anak-anak

gambar

Mentari pagi baru saja menampakkan wajahnya ketika Aula Sudirman TK Islam Terpadu (IT) Al Mumtaza di Kecamatan Kalianda dipenuhi riuh tawa dan sorak sorai anak-anak. Bukan hari biasa – pagi itu, sekolah mungil yang penuh warna ini menjadi pusat perhatian se-Kabupaten Lampung Selatan.

Dalam balutan semangat peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2025, TK IT Al Mumtaza menjadi tuan rumah Pertemuan Pagi Ceria, sebuah agenda yang tak sekadar seremoni, tetapi perayaan kebahagiaan masa kecil yang tak tergantikan.

Namun pagi itu bukan sekadar tentang keceriaan anak-anak. Hadir secara langsung, Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama yang ikut bergabung dan turut memeriahkan suasana dalam kegiatan Senam Anak Indonesia Hebat.

Dengan senyum hangat dan gerakan penuh energi, Bupati Egi membaur di tengah anak-anak, menyatu dengan semangat dan kegembiraan mereka.

Bagi anak-anak TK IT Al Mumtaza, momen ini lebih dari sekadar acara sekolah – ini adalah perayaan kebahagiaan masa kecil yang didampingi langsung oleh pemimpin daerah mereka.

“Anak-anak semua harus semangat belajarnya. Harus bahagia, harus senang belajarnya. Selamat Hari Anak Nasional,” ucap Bupati Egi penuh semangat setelah senam bersama.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang bermain dan rekreasi, tetapi juga mengandung nilai-nilai penting: membentuk karakter, menumbuhkan kebersamaan, dan memperkuat fondasi pendidikan usia dini.

Dalam sambutannya, Bupati Egi menyampaikan pesan penting kepada para guru, orang tua, serta seluruh elemen masyarakat, bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab bersama.

“Mendidik anak bukan hanya tugas sekolah. Justru porsi terbesarnya ada di rumah,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa usia dini merupakan masa emas atau golden age, yakni antara usia 0 hingga 5 tahun, dimana karakter dan potensi anak sedang berkembang pesat.

“Jika kita punya harapan besar untuk anak-anak kita, maka investasinya harus dimulai sejak usia ini. Didik, bimbing, dan berikan mereka lingkungan yang tepat sejak dini,” pesannya.

Sebagai bentuk komitmen nyata, Bupati Egi menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan akan memberikan perhatian lebih besar terhadap pendidikan anak usia dini (PAUD), demi mewujudkan generasi unggul yang tak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter.

Pagi itu menjadi lebih dari sekadar acara seremonial. Ia menjadi pengingat dan panggilan hati: bahwa setiap anak berhak atas ruang yang aman, menyenangkan, dan penuh cinta untuk tumbuh dan berkembang. Dan di TK Al Mumtaza, cita-cita besar itu telah mulai ditanamkan-dengan senyum, pelukan, dan tawa anak-anak.