Perubahan APBD 2025 Wujud Pengelolaan Keuangan Daerah yang Efektif dan Akuntabel

Bandarlampung, – Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menghadiri Rapat Paripurna DPRD Provinsi Lampung Pembicaraan Tingkat II tentang Persetujuan Bersama terhadap Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD Provinsi Lampung Tahun Anggaran 2025. “Perubahan APBD Tahun Anggaran 2025 merupakan bagian dari mekanisme perencanaan dan penganggaran pembangunan daerah,” kata Gubernur Mirza. Selasa (19/08/2025)

Perubahan APBD ini dilakukan sebagai bentuk penyesuaian terhadap dinamika dan perkembangan yang terjadi, baik dari sisi pendapatan, belanja, maupun pembiayaan, agar pengelolaan keuangan daerah tetap efektif, efisien, dan akuntabel. Gubernur Mirza menyampaikan apresiasi kepada Pimpinan dan seluruh Anggota DPRD Provinsi Lampung, khususnya Badan Anggaran dan Komisi-Komisi, atas dedikasi, kerja keras, serta perhatian terhadap kepentingan masyarakat Lampung.

Rapat Paripurna ini bertujuan untuk memberikan dasar hukum yang jelas, sekaligus dalam rangka mewujudkan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang taat pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan demikian, diharapkan bahwa perubahan APBD 2025 dapat memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat Lampung.

Gubernur Mirza juga menekankan bahwa rekomendasi-rekomendasi dan hasil evaluasi yang telah diberikan akan menjadi perhatian dalam proses penyusunan Rancangan Peraturan Daerah Tentang Perubahan APBD Tahun Anggaran 2025. (**)

Defisit Anggaran Ditutup melalui Pembiayaan Netto

Bandarlampung, – Defisit anggaran pada APBD Provinsi Lampung Tahun Anggaran 2025 tercatat sebesar Rp69,897 Miliar. Defisit tersebut ditutup melalui pembiayaan netto yang bersumber dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun Anggaran 2024, sesuai dengan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK RI Tahun 2024.

Menurut Gubernur Mirza, SiLPA tersebut sebagian besar merupakan sisa dana dari Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Tahun Anggaran 2024. “Kami berharap bahwa perubahan APBD 2025 dapat memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat Lampung,” kata Gubernur Mirza.

Perubahan APBD Tahun Anggaran 2025 setelah melalui pembahasan Badan Anggaran DPRD Provinsi Lampung bersama Tim Anggaran Pemerintah Provinsi Lampung, disepakati sebagai berikut: Pendapatan Daerah pada APBD Murni semula direncanakan Rp7,557 Triliun bertambah sebesar Rp152,595 Miliar atau menjadi Rp7,710 Triliun.

Dengan demikian, diharapkan bahwa perubahan APBD 2025 dapat mempercepat pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Lampung. (**)

Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD Disepakati

Bandarlampung, – Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD Provinsi Lampung Tahun Anggaran 2025 telah disepakati oleh DPRD Provinsi Lampung dan Pemerintah Provinsi Lampung. “Kami berharap bahwa perubahan APBD 2025 dapat memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat Lampung,” kata Gubernur Mirza.

 

 

Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD Tahun Anggaran 2025 beserta Rancangan Peraturan Gubernur tentang Penjabaran Perubahan APBD Tahun Anggaran 2025 akan disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri selambat-lambatnya 3 hari kerja sejak tanggal persetujuan Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD Tahun Anggaran 2025.

Gubernur Mirza menyampaikan apresiasi kepada Pimpinan dan seluruh Anggota DPRD Provinsi Lampung, khususnya Badan Anggaran dan Komisi-Komisi, atas dedikasi, kerja keras, serta perhatian terhadap kepentingan masyarakat Lampung. Dengan demikian, diharapkan bahwa perubahan APBD 2025 dapat mempercepat pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Lampung.

 

 

Perubahan APBD ini merupakan bagian dari mekanisme perencanaan dan penganggaran pembangunan daerah yang efektif dan akuntabel (*)

How Impermanent Loss Shapes Trading Pairs on Polkadot — A Practical DeFi Playbook

Okay, so check this out—impermanent loss (IL) isn’t some abstract tax that only academics worry about. Whoa! It bites real wallets when prices diverge and your LP position doesn’t track HODLing, and that stings. My instinct said “avoid volatile pairs,” but then I started seeing patterns across Polkadot parachains that complicated that simple rule. Initially I thought liquidity incentives were the whole story, but then realized fees, correlation, and cross-chain plumbing really drive outcomes.

Here’s the thing. Really? Yes—the structure of Polkadot (parachains, XCMP messaging, bridged assets) changes how IL plays out compared with Ethereum. Medium-sized pools on parachain DEXs often have different fee regimes and reward schedules, and those shift breakeven windows. Longer, more nuanced thought: because many Polkadot-native tokens are used across parachains without the same level of cross-chain friction as bridged ERC20s, correlated pairs (DOT–para-token) can reduce loss compared to totally unrelated assets, though nothing is guaranteed.

Let’s define the beast quickly. Hmm… Impermanent loss is the difference between the value of holding two assets separately and holding them in an AMM pool, given price movement. Short sentence: It happens when prices diverge. On one hand, pools earn fees that can offset IL; on the other hand, large directional moves can overwhelm those fees, especially without deep liquidity or adequate fee tiers, so timing and scale matter.

Polkadot specifics matter a lot. I’m biased, but parachain-native liquidity often means fewer bridge risks and lower oracle latency, which translates into less slippage and sometimes gentler IL behavior. However, some chains route assets through bridges anyway, and that re-introduces bridge risk and asymmetric exposure—so it’s not a free lunch. Also, token correlations on Polkadot are weird sometimes; two tokens might move together because they’re tied to the same ecosystem, yet one governance event can split them wide—so be ready for surprises.

Pair selection rules of thumb: pick stable-stable for minimal IL, pick correlated tokens for lower IL than unrelated volatiles, and choose fee tiers that match expected volatility. Really. Also check whether the AMM supports weighted pools or concentrated liquidity—those features can reduce impermanent loss under certain conditions. Longer thought: concentrated liquidity requires active management and market awareness; if you can’t or won’t rebalance, concentrated positions can actually increase realized loss when price breaks out of your band.

Practical example—my own quick test: I provided liquidity to a DOT/USDT pool on a smaller Polkadot DEX. Wow! Fees were generous at first, thanks to incentives, but then DOT rallied sharply while USDT stayed pegged and my LP position underperformed a simple hold by a noticeable margin. Initially I thought the reward program would compensate, but after fees and impermanent loss it was a wash until I compounded rewards and rebalanced. So watch the incentive cliff—reward programs end; when they stop, the math looks different.

Bridged vs native tokens—this is a real decision point. When assets are bridged into a parachain, you carry bridge risk and potential asymmetry in supply which can amplify IL if one side gets re-pegged or rebased. Short sentence: Native pairs usually look cleaner. Longer analysis: because XCMP and native channels can move funds more seamlessly across parachains, native-token pairs can have less systemic friction and thus less incidental slippage that exacerbates IL, though liquidity depth and user behavior still dominate.

Mitigation tactics you can actually use: pick correlated pairs (e.g., two para tokens tied to similar revenue streams), favor stable-stable pools (USDC–USDT style) for capital preservation, or use single-sided vaults and active rebalancing if the platform supports them. Here’s the thing. Hmm… Hedging with futures or options works too, but that adds complexity and costs—so it’s only for advanced users. Also consider impermanent loss insurance where available, but read the fine print; many cover narrow cases and are expensive.

Fees vs IL: Fees are your friend until they aren’t. If a pool charges higher fees and maintains volume, that can offset IL quickly. Short sentence: Volume is the multiplier. On the flip side, if fees are high because volume is low, you’re paying for little real compensation. Longer thought: ideally you want healthy fee income that scales with volatility—some Polkadot DEX fee models do that by offering dynamic fee tiers, which is smart and something to favor when available.

Tools and data—don’t fly blind. Use on-chain analytics to track pool impermanent loss over time, compare realized fees vs hypothetical HODL returns, and check TVL trends. I’m not 100% sure of all the analytics providers on every parachain, but some native dashboards and aggregators will show you historic IL curves. Also, watch the reward schedule like a hawk; many LP strategies only make sense during the incentive window and flip after it closes.

Check this out—

Chart showing impermanent loss vs fees across different Polkadot trading pairs

When choosing a DEX or pool, vet the platform’s UX around rebalancing, rewards, and token bridges; these small operational details matter a ton. If you want to test a platform that’s focused on Polkadot liquidity design and UX, I sometimes point people to the asterdex official site because their docs and pool choices highlight Polkadot-native considerations, though I’m just one voice and certainly not endorsing blindly. Long thought: platform usability affects how often you adjust positions, which in turn affects realized IL—so pick something you will actually use.

Quick strategies by risk appetite

Conservative: stick to stable-stable pools, low volatility pairs, and high-volume markets; redeploy rewards to the same LP to compound slowly. Short sentence: Low risk, low drama. Balanced: choose correlated tokens or weighted multi-asset pools and monitor daily; use small hedges when necessary. Aggressive: volatile-volatile pairs with high rewards, active management, and options hedges—this can pay off but it’s stressful and expensive if you mess up.

On-chain mechanics to watch: TVL, fee APR vs IL expectation, reward cliff dates, and whether the pool uses constant product vs weighted formulas. Really. Also note whether the AMM allows concentrated liquidity or single-sided exposure, because those tools change the calculus significantly. Longer thought: constant-product AMMs are simple and predictable, but weighted pools and dynamic fee models can align LP incentives with market conditions and reduce realized IL if used properly.

FAQ

What’s the simplest way to avoid impermanent loss on Polkadot?

Pick stable-stable pools or highly correlated pairs and stay mindful of incentive programs; if you’re not actively managing, avoid concentrated liquidity that needs frequent rebalancing. Short sentence: Keep it simple.

Do rewards make up for IL?

Sometimes they do, sometimes they don’t—depends on reward size, duration, underlying volatility, and fees collected. Initially I thought generous APRs always covered losses, but real-world exits after price moves proved otherwise; model the scenarios and treat incentives as temporary help, not a permanent buffer.

How does cross-chain bridging affect LP risk?

Bridges can add asymmetric failure modes and liquidity imbalances, which can amplify impermanent loss via re-pegging events or delayed arbitrage; prefer native parachain assets when possible to reduce this vector. I’m cautious about bridges—there, I said it.

HUT ke-80 RI, Pemprov Lampung Perkuat Sinergi Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat

Bandarlampung, – Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan Wakil Gubernur Jihan Nurlela menghadiri Sidang Paripurna DPRD Provinsi Lampung dalam rangka memperingati HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, di Ruang Sidang Paripurna DPRD Provinsi Lampung, Jumat (15/8/2025).

Sidang Paripurna dengan agenda mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden RI ini dipimpin langsung oleh Ketua DPRD Provinsi Lampung, Ahmad Giri Akbar.

Sidang Paripurna ini juga dihadiri oleh Jajaran Forkopimda Lampung, Sekdaprov Lampung, Ketua TP. PKK Provinsi Lampung, Ketua Dharma Wanita Provinsi Lampung, serta Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung.

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo Subianto menguraikan berbagai capaian dalam 10 bulan pemerintahannya, tantangan bangsa, serta langkah strategis menuju Indonesia maju, berdaulat, dan sejahtera.

Presiden juga menekankan kembali tujuan Republik Indonesia merdeka ialah untuk lepas dari kemiskinan dan kelaparan. Oleh karenanya, menurut Presiden Prabowo, Indonesia harus mampu berdiri di atas kaki sendiri dan harus berdaulat di seluruh bidang.

“Tujuan kita merdeka ialah untuk merdeka dari kemiskinan untuk merdeka dari kelaparan, merdeka dari penderitaan. Negara kita harus bisa berdiri di atas kaki sendiri. Negara kita harus berdaulat secara ekonomi dan mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri,” kata Presiden Prabowo.

Presiden Prabowo yakin dan optimistis, Indonesia mampu mewujudkan visi swasembada pangan itu karena Indonesia dianugerahi sumber daya yang melimpah.

“Tantangan kita adalah menjaga dan mengelola kekayaan kita agar cita-cita kemerdekaan kita dapat terwujud dalam waktu sesingkat-singkatnya,” ujar Presiden Prabowo.

Seusai mengikuti Sidang Paripurna DPRD Provinsi Lampung, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal berharap Provinsi Lampung semakin dekat dengan cita-cita kemerdekaan, seiring dengan peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2025.

“Alhamdulillah Indonesia hari ini berusia 80 tahun. Kita berharap Lampung juga semakin dekat dengan cita-cita kemerdekaan. Masyarakatnya makmur, tingkat pendidikannya bagus, dan seluruh hasil alam serta kekayaan Lampung bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Lampung,” ujar Gubernur Mirza.

Terkait titik berat program Presiden yang menyoroti permasalahan kemiskinan, kesehatan, dan pendidikan, Gubernur menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Lampung untuk memastikan seluruh program pusat tepat sasaran.

“Yang pertama, kita memastikan program-program yang dilakukan Presiden itu bermanfaat maksimal dan jatuh ke orang-orang tepat, khususnya menyasar warga di desil 1 dan desil 2,” kata Gubernur.

“Selain itu, kita akan mengintegrasikan seluruh program Pemprov, Pemkab, dan Pemkot agar saling bersinergi sehingga daya ungkit dan hasilnya akan lebih maksimal,” tambahnya lagi.

Gubernur menegaskan bahwa sinergi lintas program dan kebijakan menjadi kunci untuk mendorong kesejahteraan masyarakat serta mempercepat pencapaian tujuan pembangunan daerah yang sejalan dengan visi nasional

Sinergi antara Eksekutif dan Legislatif dalam Pembahasan APBD

Bandarlampung, – Rapat paripurna DPRD Provinsi Lampung yang membahas Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD Tahun Anggaran 2025 menunjukkan sinergi yang baik antara eksekutif dan legislatif. “Pelaksanaan program dan kegiatan pemerintah daerah tidak terlepas dari kerja sama yang solid antara eksekutif dan legislatif serta dukungan masyarakat,” kata Gubernur Mirza.

Menurut Gubernur Mirza, kerja sama yang solid ini merupakan pondasi tata kelola pemerintahan yang baik dan berorientasi pada pelayanan publik. Ia juga berharap bahwa pembahasan perubahan APBD 2025 dapat dilakukan secara komprehensif dan transparan.

Rapat paripurna akan dilanjutkan dengan agenda pembahasan tingkat komisi dan badan anggaran untuk memperdalam materi perubahan APBD 2025. Dengan demikian, diharapkan bahwa perubahan APBD 2025 dapat memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat Lampung.

Gubernur Mirza juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh fraksi DPRD yang telah memberikan perhatian, masukan, dan tanggapan terhadap rancangan perubahan APBD. (**)

Pemerintah Provinsi Lampung Komitmen Menggali Potensi Pendapatan

Bandarlampung, – Pemerintah Provinsi Lampung berkomitmen menggali potensi pendapatan, baik dari sektor pajak maupun nonpajak, untuk mewujudkan kemandirian fiskal dan keberlanjutan pembangunan. “Untuk mewujudkan kemandirian fiskal dan keberlanjutan pembangunan, diperlukan kerja keras, inovasi, serta optimalisasi pendapatan daerah berbasis data, teknologi, dan kolaborasi lintas sektor,” kata Gubernur Mirza.

Menurut Gubernur Mirza, dengan menggali potensi pendapatan, capaian pembangunan semakin merata dan berkelanjutan. Ia juga mengajak DPRD dan seluruh elemen masyarakat untuk terus mendukung rencana perubahan APBD 2025 agar dapat disepakati tepat waktu sesuai ketentuan perundang-undangan.

Pemerintah Provinsi Lampung optimis bahwa dengan kerja sama yang solid antara eksekutif dan legislatif serta dukungan masyarakat, perubahan APBD 2025 dapat memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat Lampung. “Kami berharap agar hasilnya benar-benar memberi manfaat optimal bagi seluruh masyarakat Lampung,” pungkasnya.

Dengan demikian, diharapkan bahwa perubahan APBD 2025 dapat mempercepat pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Lampung. (**)

Gubernur Lampung Sampaikan Jawaban atas Pemandangan Umum Fraksi DPRD Terkait Perubahan APBD 2025

Bandarlampung, – Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan jawaban atas pemandangan umum fraksi-fraksi DPRD Provinsi Lampung terkait Rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2025 di ruang rapat paripurna DPRD, Rabu (13/8/2025).

Dalam sambutannya, Gubernur Mirza menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh fraksi DPRD yang telah memberikan perhatian, masukan, dan tanggapan terhadap rancangan perubahan APBD.

Menurutnya, pemandangan umum fraksi merupakan wujud nyata kemitraan, sinergi, dan fungsi pengawasan DPRD demi terciptanya tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan berpihak pada rakyat.

“Kesepakatan bersama tentang perubahan kebijakan umum APBD dan prioritas plafon anggaran sementara Tahun Anggaran 2025 telah dicapai pada 8 Agustus 2025. Kesepakatan ini merupakan hasil pembahasan antara TAPD dan Badan Anggaran DPRD agar program dan kegiatan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat dan pembangunan daerah,” ujar Gubernur.

Ia menegaskan, untuk mewujudkan kemandirian fiskal dan keberlanjutan pembangunan, diperlukan kerja keras, inovasi, serta optimalisasi pendapatan daerah berbasis data, teknologi, dan kolaborasi lintas sektor.

Pemerintah Provinsi Lampung berkomitmen menggali potensi pendapatan, baik dari sektor pajak maupun nonpajak, agar capaian pembangunan semakin merata dan berkelanjutan.

Gubernur juga mengajak DPRD dan seluruh elemen masyarakat untuk terus mendukung rencana perubahan APBD 2025 agar dapat disepakati tepat waktu sesuai ketentuan perundang-undangan.

“Pelaksanaan program dan kegiatan pemerintah daerah tidak terlepas dari kerja sama yang solid antara eksekutif dan legislatif serta dukungan masyarakat. Inilah pondasi tata kelola pemerintahan yang baik dan berorientasi pada pelayanan publik,” tegasnya.

Rapat paripurna akan dilanjutkan dengan agenda pembahasan tingkat komisi dan badan anggaran untuk memperdalam materi perubahan APBD 2025.
(Dinas Kominfotik Provinsi Lampung).

Rapat Paripurna DPRD Provinsi Lampung

Bandarlampung, –  Rapat Paripurna DPRD Provinsi Lampung lanjutan pembicaraan tingkat I terkait pemandangan umum fraksi-fraksi terhadap Raperda Perubahan APBD Tahun Anggaran 2025 digelar di Ruang Sidang Paripurna, Selasa (12/8/2025). Rapat yang dipimpin langsung oleh Ketua DPRD Provinsi Lampung, Ahmad Giri Akbar, membahas pandangan dan masukan dari delapan fraksi. Mayoritas fraksi menyetujui Raperda tersebut untuk dibahas ke tahap selanjutnya dengan sejumlah catatan strategis.

Menurut Ahmad Giri Akbar, Ketua DPRD Provinsi Lampung, rapat paripurna ini merupakan langkah penting dalam proses pembahasan Raperda Perubahan APBD 2025. “Kami berharap Raperda ini dapat disempurnakan dan ditetapkan menjadi Peraturan Daerah yang efektif dan efisien,” ujarnya.

Fraksi Gerindra menekankan perlunya pengawasan ketat pada belanja modal, terutama infrastruktur jalan dan irigasi. Sementara itu, PDI Perjuangan mendorong diversifikasi sumber pendapatan asli daerah agar tidak hanya bergantung pada pajak kendaraan bermotor.

Dengan dukungan mayoritas fraksi, Raperda Perubahan APBD 2025 akan dibahas lebih lanjut untuk disempurnakan sebelum ditetapkan menjadi Peraturan Daerah. Rapat ditunda untuk mendengarkan jawaban Gubernur Lampung atas pandangan dan saran dari fraksi-fraksi yang direncanakan digelar pada Rabu, 13 Agustus 2025. (**)